Jakarta, 9 Juli 2025 – Bursa saham Asia mencatat penguatan pada perdagangan Selasa (8/7), namun sentimen pasar masih dibayangi oleh ketidakpastian menyusul manuver kebijakan tarif dari mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Meskipun indeks-indeks utama di kawasan Asia mencatat kenaikan, sebagian pelaku pasar menganggap penguatan ini bersifat sementara dan rentan terhadap perkembangan kebijakan dagang AS yang tidak terduga.
Trump mengejutkan dunia dengan keputusan untuk menunda penerapan tarif timbal balik hingga 1 Agustus 2025—tenggat waktu yang diperpanjang dari rencana semula tanggal 9 Juli. Langkah ini dinilai sebagai strategi politik yang menyisakan banyak tanda tanya di kalangan investor.
"Pasar saat ini lebih mencerminkan reaksi teknikal jangka pendek ketimbang optimisme fundamental," ujar seorang analis pasar Asia di Tokyo.
Meskipun penundaan tarif memberi sedikit ruang bernapas, kebijakan Trump yang tetap keras terhadap sejumlah mitra dagang utama seperti Jepang, Korea Selatan, dan Indonesia justru memunculkan kecemasan baru. Penerapan tarif tinggi dikhawatirkan akan memicu inflasi global dan mempersempit ruang manuver bank sentral, termasuk Federal Reserve.
Sementara itu, investor menanti rilis risalah rapat The Fed (Fed Minutes) bulan Juni yang dijadwalkan keluar Rabu (9/7). Dokumen ini dinilai krusial untuk membaca arah kebijakan moneter Amerika Serikat ke depan.
Saat ini, ekspektasi pasar memperkirakan bahwa The Fed tidak akan mengubah suku bunga pada Juli, namun peluang pemangkasan suku bunga pada bulan September mulai meningkat seiring tekanan ekonomi global.
Kenaikan indeks seperti Hang Seng (+1,09%), Kospi (+1,81%), dan Nikkei 225 (+0,26%) mencerminkan optimisme terbatas, tetapi risiko tetap tinggi apabila kebijakan proteksionisme AS berlanjut tanpa kepastian arah yang jelas.
Social Footer