Foto: Ilustrasi


Mataram - Malam turun di Sindu. Dari luar, kawasan ini tampak seperti distrik hiburan biasa di Kota Mataram. Neon berkedip, musik bass menggelegar, dan deretan tempat karaoke berjejer rapi di sisi jalan. 

Tapi begitu masuk lebih dalam, pemandangan berubah. Di tengah gemuruh musik itu berdiri sebuah arena, Bukan panggung musik, Bukan lantai dansa. Melainkan ring sabung ayam yang didesain megah. Dan anehnya, arena judi sabung ayam ilegal itu dikelilingi. Bukan dijauhi. 

Warga Sindu, Kecamatan Cakranegara, sudah lama melihat pola ini. Siang sepi. Begitu malam, tempat hiburan malam di sekeliling arena mulai hidup. Pintu dibuka. Tamu berdatangan. Di saat yang sama, aktivitas sabung ayam juga dimulai.

"Ramainya bukan main. Musik dari kafe dan karaoke saling sahut-sahutan dengan teriakan dari dalam arena," kata seorang warga yang tinggal tak jauh dari lokasi.

Menurut informasi yang dihimpun, hampir semua tempat hiburan malam di deretan itu diduga beroperasi tanpa izin resmi. Namun aktivitas berjalan seperti biasa. Tidak ada razia. Tidak ada segel. Tidak ada tindakan tegas dari Pemerintah Kota Mataram.

Ironisnya, bisnis legal dan ilegal tumbuh berdampingan. Karaoke di sisi kanan. club malam di sisi kiri. Dan di tengahnya, judi sabung ayam yang secara hukum dilarang, justru menjadi pusat keramaian.

Hingga berita ini ditulis, belum ada pergerakan berarti dari aparat penegak hukum maupun dinas terkait di Pemkot Mataram. Kawasan Sindu tetap beroperasi seperti tidak terjadi apa-apa.

Padahal keluhan warga sudah lama terdengar. Mereka resah bukan hanya karena perjudian, tapi juga karena dampaknya: keributan malam, lalu lintas kendaraan yang padat, dan citra kawasan yang semakin buruk.

"Kami berharap pemerintah tidak tutup mata. Ini sudah terang-terangan," ujar sumber media ini.

Pemkot Mataram sendiri beberapa kali menyatakan komitmen memberantas tempat usaha tanpa izin dan praktik perjudian. Namun di Sindu, komitmen itu belum terlihat wujudnya.

Mataram sedang mendorong diri sebagai kota jasa dan pariwisata. Tapi di satu sudut kota, justru tumbuh ekosistem hiburan malam yang diduga ditunggangi praktik ilegal.

Pertanyaannya sederhana: siapa yang membiarkan? Dan sampai kapan ring judi di tengah lampu disko ini dibiarkan terus berputar setiap malam?

Pemerintah, kata warga, tinggal memilih. Menertibkan, atau membiarkan Mataram dikenal bukan karena budayanya, tapi karena arena judinya.


Penulis: FO-05
Editor: Wil